Bangunjiwo, Bantul — Malam itu, Sabtu, 9 Agustus 2025, angin sepoi membawa aroma tanah basah, seakan ikut merayakan perjumpaan keluarga besar Muhammadiyah Ranting Bangunjiwo Barat. Di Warung Teduh Sambi Kerep yang sederhana namun penuh kehangatan, cahaya lampu temaram memantulkan senyum-senyum yang telah lama tak bertemu.
Pukul tujuh lebih tiga puluh menit, para tokoh hadir satu per satu: pimpinan PCM Kasihan, PRM dan PRA Bangunjiwo Barat, para sesepuh yang rambutnya telah memutih oleh perjalanan waktu, hingga para kepala Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang setiap harinya memikul amanah dakwah. Mereka duduk melingkar, bukan sekadar bertukar kabar, tetapi menganyam tekad, meneguhkan janji untuk berjalan bersama di tengah gelombang zaman.
Kata-kata yang terucap malam itu bukan hanya retorika. Ada getar keyakinan ketika seorang tokoh PRM menegaskan, “Kekuatan Muhammadiyah ada pada kebersamaan… Kita harus bergerak sebagai satu tubuh, saling menopang dan menguatkan.” Dalam alunan percakapan, topik demi topik mengalir: pendidikan yang berdaya, ekonomi umat yang mandiri, hingga tantangan teknologi yang tak bisa dihindari. Setiap ide menjadi benang, dan malam itu mereka menenun kain besar cita-cita.
Di penghujung pertemuan, kesepakatan lahir seperti mata air di tengah kemarau: membangun AUM bersama, menjadikannya bukan hanya kebanggaan Muhammadiyah, tetapi pelita bagi masyarakat Bangunjiwo Barat. Ranting ini, walau kecil di peta organisasi, membuktikan dirinya sebagai akar yang menguatkan batang dan ranting dakwah.
Ketika langkah kaki meninggalkan Warung Teduh, suasana malam terasa berbeda. Ada kehangatan yang tertinggal, ada semangat yang diam-diam menyala. Mereka pulang membawa bekal yang tak terlihat—energi untuk berkarya, keyakinan untuk memajukan, dan cinta untuk memberi manfaat seluas-luasnya bagi sesama.