Khutbah Idulfitri yang disampaikan di hadapan jamaah, diserukan sebuah pesan penting bagi umat: menjadikan momentum kemenangan setelah Ramadan sebagai titik awal membangun kehidupan yang lebih baik, berlandaskan taqwa kepada Allah SWT.
Khutbah tersebut mengajak umat Islam untuk tidak menjadikan Idulfitri sekadar perayaan spiritual tahunan, tetapi sebagai energi perubahan bagi kehidupan bersama. Setelah ditempa oleh ibadah puasa selama sebulan penuh, umat diajak menata kembali kehidupan sosial dengan nilai-nilai yang menyejukkan: harmoni, kedamaian, saling menghormati, toleransi, dan kebersamaan.
Idulfitri, dalam pesan khutbah itu, digambarkan sebagai momentum kembali kepada fitrah—fitrah untuk menebar kasih sayang, mempererat silaturahmi, dan meneguhkan persaudaraan. Karena itu, umat diingatkan untuk menjauhi segala hal yang dapat memecah belah kehidupan: perseteruan, permusuhan, fitnah, dan konflik yang menjauhkan manusia dari rahmat Allah.
Di tengah derasnya arus informasi, khutbah tersebut juga menyoroti pentingnya menggunakan media sosial secara bijak. Media sosial hendaknya menjadi ruang untuk menyambung silaturahmi dan menebarkan kebaikan, bukan menjadi ladang kebencian, fitnah, atau pertikaian. Setiap kata yang ditulis dan setiap pesan yang dibagikan hendaknya menjadi bagian dari amal kebaikan yang memperkuat nilai-nilai taqwa.
Lebih jauh, khutbah itu menegaskan bahwa umat Islam di Indonesia memiliki tanggung jawab besar sebagai komunitas dengan jumlah terbesar. Umat Islam didorong untuk tampil sebagai pelopor kemajuan di berbagai bidang kehidupan.
Spirit kewirausahaan perlu ditumbuhkan, agar umat mampu mandiri dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Semangat menuntut ilmu harus terus dipupuk, sehingga lahir generasi yang cerdas dan berdaya saing. Dan yang tidak kalah penting, etos berkemajuan harus menjadi karakter kolektif umat, agar tidak tertinggal dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks—baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan berbangsa, maupun di panggung global.
Pesan Idulfitri itu pada akhirnya bermuara pada satu cita-cita besar: membangun kehidupan bersama yang lebih cerdas, lebih sejahtera, lebih adil, dan lebih berkemajuan. Sebuah kehidupan yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual.
Dari mimbar Idulfitri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu mengalir sebuah harapan: semoga kemenangan Ramadan tidak berhenti di hari raya, tetapi menjelma menjadi energi perubahan—membangun peradaban yang diliputi rahmat Allah, dipenuhi persaudaraan, dan dituntun oleh cahaya taqwa.


